Prasangka

Pernahkah kamu membicarakan orang lain? atau di gosipin?
Atau pernahkah akhirnya kamu membuat asumsi tentang seseorang hanya berdasarkan cerita dari orang lain, yang belum tentu kebenarannya dan dengan fakta yang dibuat-buat? Nahhhh….jika pernah mengalaminya, maka hal itu dalam ilmu psikologi sosial disebut dengan prasangka. Dalam psikologi, prasangka sudah di teliti dari tahun 1920-an, akhirnya penelitian banyak di kembangkan oleh Allport pada tahun 1950-an.

Prasangka, sama saja dengan menghakimi tanpa melakukan pencarian fakta yang relevan atas suatu hal. Prasangka ini bisa terjadi karena adanya penilaian kurang baik terhadap seseorang, bisa karena gender, suku, agama, kelompok, atau karena karakteristik personal seseorang. Menurut Allport (1954) seorang tokoh psikologi, prasangka termasuk sikap (bisa positif atau negatif) yang tidak masuk akal karena pengaruh emosional. Ingat yaaa….TIDAK MASUK AKAL, jadi walaupun prasangka itu positif tetaplah tidak masuk akal, apalagi yang negatif :)

Mendapat prasangka, Harus kuat & sabar!
www.mentalhelp.com

Mendapat prasangka, Harus kuat & sabar!
www.mentalhelp.com

Sebenarnya prasangka termasuk hal yanng normal, karena merupakan proses alami seorang manusia. Mengapa proses ini dianggap normal? Menurut Crandall & Eshleman (2003), manusia memiliki keinginan/ hasrat untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak dia sukai dari orang lain dengan cara memperlihatkan dirinya sendiri secara positif (positive self-concept). Jadi wajar lah jika kita menemui seseorang yang bisa dengan berapi-apinya membicarakan keburukan orang lain dengan pastinya memposisikan dirinya sendiri sebagai pihak yang baik. Tapi tidak masalah, karena berarti dia masih normal :)

Nahh….uniknya, perempuan adalah gender yang dianggap memiliki negatif sentimen yang tinggi dibandingkan dengan laki-laki, karena perempuan dianggap kurang dapat mengontrol sentimen yang ada pada dirinya (Rudman, 2005). Menurut beberapa peneliti yang melihat hal tersebut dari kacamata sejarah, perempuan sebelumnya dianggap tidak penting di masyarakat dan memiliki pendidikan yang rendah. Sehingga, mungkin perempuan akhirnya mengekspresikan sentimen pribadi dengan membuat prasangka dan mempublikasikannya secara umum, agar dilihat dan didengar.

Crandall & Schaller (2004) membuat sebuah teori “Social Psyhology of Prejudice” atau psikologi sosial prasangka. Dalam salah satu bab-nya, dituliskan bahwa jika ada perempuan yang terlihat percaya diri, kuat, dan terlihat memiliki kualitas diri yang baik justru tidak disukai oleh perempuan tetapi disukai oleh laki-laki. Laki-laki menyukai perempuan yang jenis seperti ini karena walaupun dianggap sebagai kompetitor tetapi mereka sangat kagum.

Film "Pride & Prejudice"

Film “Pride & Prejudice”


Tetapi bersyukurlah jika anda pernah mendapatkan berbagai macam prasangka dari lingkungan sekitar. Berarti anda diperhatikan atau memang selalu menjadi pusat perhatian. Mungkin predikat selebritis sangat tepat diberikan kepada anda. Dan biarkanlah prasangka itu muncul dan dijadikan bahan perbincangan, karena memang lebih baik diomongin orang daripada kita yang omongin orang. Kasihanilah bibir kita sendiri, yang nantinya jadi aset di surga :)

referensi:
1. Allport, G.W (1954). The Nature of Prejudice. Reading: Addison Wesley
2. Crandall, C.S.,Schaller, M. (2004). Social Psychology of Prejudice: Historical & Contemporary Issues. Lewinian Press: Kansas
3. Rudman (2005) On The Nature of Prejudice. Malden: Blackwell Publishing

Aja Kaya Kuwee Lahhh…(Bahasa Ngapak, Jangan ditinggalkan!)

Saya memiliki romantisme tersendiri dengan bahasa ngapak. Saat berumur 4 tahun keluarga saya pindah dari Kudus ke Cilacap, mengikuti Ayah saya yang dipindah tugaskan kesana. Baru menginjakkan kaki ke Cilacap saya sudah dibuat domblong karena bahasa yang digunakan si Mbak (asisten rumah tangga). Saat saya main di luar rumah si Mbak berteriak, “Dek Mama….aja dolanan nang nggili”, karena tidak faham dengan perkataan si Mbak, ehh..si Mbak malah nambah teriak-teriaknya sambil menyeret saya masuk rumah.

Saya adalah orang Jawa yang memakai bahasa Jawa bagian tengah (Solo, Jogja, dan sekitarnya) tapi ternyata mudah bagi saya untuk melebur menggunakan bahasa Jawa dialektika Banyumasan kala itu, walaupun dibilang lucu atau kaku. Ternyata, selama 5 tahun keluarga saya tinggal di Cilacap hanya saya yang bisa menggunakan bahasa Banyumasan dengan baik. Walaupun pada akhirnya kakak lelaki saya menikah dengan perempuan asal Purwokerto, tetapi dia pun tidak lihai menggunakan bahasa Jawa dialektika Banyumasan.

Bahasa Jawa dialektika Banyumasan atau biasa disebut bahasa Ngapak-ngapak menurut saya sangat unik. Pertama, huruf diakhir dalam bahasa Jawa yang biasanya berubah menjadi O tetap dibaca A. Contohnya: ngopo jadi ngapa, sego jadi sega. Kedua, dialektika Banyumasan diucapkan apa adanya sesuai dengan tulisan hurufnya dan diucapkan dengan penekanan, seperti: wes (sudah) jika orang Jawa bagian tengah akan mengucapkannya biasa saja, tetapi dialektika Banyumasan akan mengucapkannya dengan penekanan huruf s. Terutama lagi jika kata diakhiri dengan huruf K, seperti enak, apik, maka akan terlihat sekali penekanan pada huruf K saat diucapkan. Pengucapan huruf vocal juga dibaca dengan jelas. Inilah yang disebut dengan keunikan tata bunyi (Wedhawati, 2006), dimana dialek Banyumas memiliki 6 fonem vokal yaitu: /a/, /o/, /u/, /i/, /e/ dan /«/ dan 22 fonem konsonan, yakni /p/, /b/, /c/, /w/, /m/, /t/, /t`/, /d/, /d`/, /n/, /n`/, /s/, /l/, /j/, /ñ/, /r/, /y/, /k/, /g/, /N/, /h/, dan /v/.

kamus ngapak, belum pernah baca, cuman nemu di Google

kamus ngapak, belum pernah baca, cuman nemu di Google


Ketiga, bahasa Banyumasan mendapatkan pengaruh dari bahasa Sunda (karena wilayahnya berbatasan dengan Jawa Barat), bahasa Jawa kuno, dan pastinya bahasa Jawa tengahan. Itulah yang akhirnya disebut oleh Priyadi (2000) bahwa budaya Banyumasan dengan dialektikanya disebut dengan budaya yang tanggung atau marginal. Tetapi bagusnya dari budaya yang tanggung tersebut akhirnya masyarakatnya lebih egaliter dan universal. Ke egaliteran memang terlihat di tengah masyarakat Banyumas, saya merasakan sendiri bagaimana perbedaannya keluarga besar saya yang mayoritas berasal dari Jawa tengahan (Solo, Jogja, Klaten) dengan keluarga besar kakak ipar saya (Purwokerto, Purbalingga) dimana strata tidak terlihat. Penghormatan terhadap orang lain (terutama kepada yang lebih tua) didasarkan pada prinsip humanitarian agar kehidupan berjalan tentram, bukan pada prinsip keharusan atau kewajiban seperti di wilayah Jawa bagian tengah.

Romantisme dengan bahasa Jawa dialektika Banyumasan yang bermula saat saya masih berumur 4 tahun ternyata menyebabkan saya mempunyai klik dengan masyarakatnya. Entah mengapa, saat tiba-tiba berhadapan dengan orang yang berasal dari wilayah Banyumas atau yang juga berasal dari wilayah ngapak lainnya (Tegal, Brebes, Pekalongan) saya akan otomatis menggunakan bahasa ngapak. Walaupun terkadang banyak orang akan tertawa jika mendengar dialektika Banyumasan, tetapi menyenangkan bisa menguasai sedikit bahasa ini. Yuuukk lestarikan.

referensi:
Priyadi, Sugeng, 2002a. Banyumas antara Jawa dan Sunda. Semarang:
MimbarThe Ford Foundation-Yayasan Adhikarya Ikapi.
Wedhawati dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogakata: Kanisius.

Memasarkan Wisata Kota (studi kasus Surabaya)

Pendapatan daerah bisa berasal dari mana saja, salah satunya dari pemasukan wisata. Jika anda sering bepergian keluar kota pasti akan mencari sesuatu yang khas yang ada di daerah tersebut. Saya, termasuk orang yang tidak akan melewatkan kesempatan berjalan-jalan atau sekedar mencicipi makanan khas dari kota yang saya singgahi. Tetapi ternyata tidak semua kota di Indonesia mampu memberikan sensasi petualangan, hal ini dikarenakan oleh banyak faktor, salah satunya ketidak siapan pemerintah daerah dan masyarakatnya dalam memasarkan produk wisata mereka.

Strategi pemasaran wisata harus terintegrasi dengan semua sistem yang ada, mulai dari sarana prasarana, infrstruktur, pengelolaan, bahkan juga kesiapan masyarakatnya sendiri untuk mengembangkan dan memajukan produk wisatanya. Di beberapa kota yang pernah saya singgahi, mampu menyuguhkan eksotisme yang tidak akan ditemukan ditempat lain. Contohnya saja saat saya berkunjung ke Surabaya beberapa hari yang lalu untuk sebuah pertemuan mewakili kampus bersama dengan Dikti. Saat itu saya sama sekali tidak berpikir untuk jalan-jalan karena memang jadwal yang diberikan oleh panitia cukup padat, lagipula saya sudah beberapa kali berkunjung ke Surabaya, sehingga jalan-jalan bisa saya kesampingkan. Tetapi karena ternyata urusan saya sudah selesai lebih cepat dan teman-teman yang berasal dari Perguruan Tinggi lain mengajak city tour, so why not.

House Of Sampoerna

House Of Sampoerna


Saya mendapatkan tour guide yang luar biasa, Bu Yeye, beliau perwakilan dari UNISBANK Semarang. Belum lagi saya berpikir tentang kendaraan yang bisa membawa saya dan teman-teman untuk berkeliling, beliau ternyata sudah menelpon jasa rental mobil, dan begitulaaaahh akhirnya didepan lobby sudah terparkir xenia merah untuk membawa kami ber-tujuh berkeliling Surabaya.
House of Sampoerna -ditangga

House of Sampoerna -ditangga


Tujuan pertama kami kemarin adalah Genteng, pusat oleh-oleh Surabaya. Sesampainya disana, langsung masuk ke sebuah toko yang menyediakan Bandeng Asap khas, toko Bhek. Setelah puas berbelanja Bandeng Asap (Bu Yeye dan Bu Diah yang paling banyak belanjaannya) kami lanjut ke House of Sampoerna. Wahhh….House of Sampoerna adalah museum yang memperlihatkan kepada kita bagaimana sejarah Liem Seeng Tee (founder of Sampoerna) dalam mengawali usahanya dan membesarkannya. Baru saja keluar dari mobil, bau tembakau menyeruak, ahhh…..nikmat sekali, apalagi ditambah gerimis yang akhirnya jadi romantis, bau kretek khas Indonesia. Baru melihat bangunannya pun saya sudah terkesima, indah, setelah masuk apalagi. Ada seorang pemandu yang begitu bersemangat menjelaskan tentang apa yang ada di dalam museum. Museumnya seperti art gallery, ditata rapi, sebuah kolam dengan 9 ikan koi berada di tengah, lampu yang dipasang temaram, benda-benda yang dipajang juga cantik, membuat teman-teman saya yang mayoritas ibu-ibu sibuk berfoto. Menyenangkannya dari museum ini adalah kami bisa secara langsung melihat bagaimana proses pembuatan rokok dari tembakau (yang kami lihat adalah pembuatan kretek Dji Sam Soe).
Mobil Leem, outside House Of Sampoerna

Mobil Leem, outside House Of Sampoerna


Nah…..destinasi selanjutnya tidak kalah luar biasa. Setelah sholat di masjid agung, kami lanjut ke Pasar Atum. Pusat perbelanjaan legendaris, banyak makanan tradisional lezat, belanja textile murah, dan jajanan yang murah (jika dibandingkan membeli di pusat oleh-oleh). Saya langsung ngekor Bu Yeye yang katanya ingin beli Cakwe. Wahhh..karena saya penggemar cakwe langsung saja mengekor Bu Yeye. Cakwenya bernama Paneleh, aduuhhh…baru lihat aneka cakwe digelar saja saya sudah kepincut. Ini pengusaha cakwenya juga luar biasa, panganan yang murah tapi penggemarnya banyak, pastinya menghasilkan omzet yang besar. Yeahh…jangan pernah merendahkan usaha panganan yang begini, karena justru usaha panganan hampir tidak lekang oleh waktu dan relatif stabil mengikuti harga bahan bakunya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Di selasar pasar atum kami menemukan bubur madura, wahh…..mampir duduk dan memesan setengah porsi (FYI- satu porsi bubur madura seharga 10ribu dan itu porsinya besar, sehingga jika anda masih ingin makan yang lain, pesan setengah saja). Enaknyaaa….makan bubur madura dengan daun pisang, duduk di selasar dengan pembeli yang lain, that’s an heaven on earth (you may call this hyperbolic, hehe). Karena kami sudah lelah dan jadwal keberangkatan kereta sudah dekat, maka pasar atum menjadi tempat terakhir kami. Ternyata, teman-teman yang lain sudah berganti baju, mereka membeli baju baru dan langsung dipakai saat itu juga, haha…nice.
Bubur Madura Pasar Atum- Bu Yeye

Bubur Madura Pasar Atum- Bu Yeye


Surabaya, ternyata mampu memberikan paket wisata yang menyenangkan seperti itu, walaupun cuma di kota, tapi menyenangkan bisa merasakan nikmatnya Surabaya dengan cara yang berbeda. Surabaya tanpa rujak cingur atau lontong balap ternyata tidak masalah, karena masih ada banyak yang lain yang bisa dinikmati. Membekas dihati. Thanks bu Yeye.